Pendakian Gunung Ciremai Via Apuy

Januari 08, 2019

Dan Sepenggal Cerita Mistisnya

 “Maafin gue ya. Banyak salah. Kak, maafin ya. Bang, maafin. Maafin.”
Dia tidak berhenti-henti meminfa maaf. Berkali-kali pun kami kompak menjawab sudah memafkaannya, tapi dia terus saja mengatakan penyesalan dan minta maaf. Jalannya sudah lesu, pandangannya juga sudah hampir kosong, sudah tidak fokus pada jalan yang ada di depan matanya. Semakin aku menyuruh dia bergegas, tetap saja dia mengatakan maaf. Lalu tiba-tiba tepat di sebuah turunan dia berhenti, menangis dan masih meraung minta maaf. Begitu seterusnya.
Aku mulai gelisah. Sebentar lagi Magrib menjelang, kalau terus begini bisa bahaya. Seorang pun tak bisa memberi tahu kenapa ini, apa memang dia terbiasa seperti ini atau bagaimana. Sampai Pak Eko mengatakan, dia kesurupan anak kecil dan harus terus diajak mengobrol. Ah.
Setelah turunan POS 3 akhirnya aku memberanikan diri menuntunnya dengan Bismillah. Pak Eko mengambil langkah paling depan, disusul Halimah, aku, dia dan Nanang. Aku bekerjasama dengan Nanang mencari topik pembicaraan agar tidak hening. Hari semakin gelap. 30 menit lagi Magrib. Diantara sesekali mendongengkan cerita untuknya aku berpaling ke belakang melihatnya. Jalannya sudah benar-benar tidak fokus, senter yang dia pegang sudah tidak mengarah dengan tepat. Beberapa kali juga aku memanggil namanya dia sudah tidak menyahut. Indah, di belakang juga sudah mulai berulah. Indigonya mulai tak tertahankan.
Aku memacu langkah menyusul Pak Eko dan Halimah, takut tertinggal. Tapi dia yang persis di belakangku, tak juga kunjung berjalanan cepat. Nanang sudah bersusah payah menyuruhnya mempercepat langkah. Sampai akhirnya aku tertinggal oleh Pak Eko dan Halimah, dia dan Nanang juga masih di belakang. Aku masih dalam tahap bercerita tiba-tiba merinding. Lantunan Ayat Kursi yang dibaca Halimah sudah tak terdengar karena dia sudah berjalanan cepat di depan. Gelap sudah menguasai hutan. Dia juga tertinggal di belakangku diiringi Nanang. Seketika bulu kudukku berdiri, merinding, dan pundakku terasa berat. Oh sial, aku lupa kalau juga sedang haid, jangan sampai aku yang menjadi incaran “penunggu” Ciremai ini.
“Ayo Ga, buru!” Aku berteriak (pelan) dengan nada tegas padanya.
“Pak Eko, Bu Limah, closer please. Tungguin,” pun kepada dua orang teman di depanku.
Ya Allah, jangan sampai juga aku yang kena. Lindungi kami semua.
Perjalanan turun ini begitu mencekam. Hanya suara alam malam yang benar-benar hidup. 13 langkah kaki beriringan turun di senja menjelang malam, di tengah kegelapan hutan, dan menjadi tim terakhir yang beranjak pulang dari puncak tertinggi di Jawa Barat hari ini.

Nanjak
            Dikarenakan tidak ada agenda penting di malam tahun baru dan daripada kerjaan menggalau tidak jelas akhirnya aku ikut seorang teman lama, Khair, untuk mendaki puncak tertinggi di Jawa Barat. Pendakian ini adalah pendakian bersama dengan teman-teman dekatnya. Semua ada 13 orang, 10 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Semua persiapan Alhamdulillah sudah maksimal ; 6 tenda, logistik, serta perlengkapan pribadi wajib seperti Sleeping bag (SB) dan matras juga sudah beres. Semua tinggal berangkat, Bismillah.

Minggu, 30 Desember 2018
Harusnya hari ini keberangkatan dimulai pukul 9 malam dari titik kumpul di Jelambar, Jakarta Barat. Namun, mobil elf yang disewa baru saja turun dari Prau dan terjebak macet saat masuk kembali ke Jakarta. Alhasil keberangkatan molor jadi jam 3 pagi. Parahnya lagi ternyata driver tidak ganti. Masih dengan sopir yang sama saat membawa tamu dari Prau ke Jakarta. Alamak.

Senin, 31 Desember 2018
            Bismillah, perjalanan pun dimulai. Jam 3 dini hari mobil menembus jalanan ibukota Jakarta. Dikarenakan sopir tidak ganti, Khair dan Eko harus berjaga memantau si bapak sopir untuk fokus di belakang kemudi setirnya agar tidak terkantuk-kantuk.
            Jam setengah 5 pagi berhenti di KM 86 untuk melaksanakan salat Subuh.
            Perjalanan kembali dilanjutkan. Alhamdulillah lancar jaya, tidak macet sama sekali. Jam 6.45 pagi sudah menginjakkan kaki di Terminal Maja, Majalengka. Selamat Pagi puncak Ciremai di depan sana. Puncaknya tampak jelas dari terminal ini, hanya saja tertutup kabut. Semoga esok pagi cerah menyambut kami semua di atas sana.
            Cukup lama berhenti di sini, sekitar satu jam. Di waktu tersebut saatnya mengisi perut terlebih dahulu. Cukup mudah untuk menemukan tempat sarapan di terminal ini. Banyak jejeran warung-warung yang menjajakan makanan. Aku menyantap semangkuk sop daging sapi, nasi putih bertabur bawang merah, telur dadar sayur, seharga Rp14.000,-. Urusan toilet pun juga beres di sini. Ada toilet umum di sekitar terminal yang juga cukup bersih.
            Kalau para pendaki yang ngeteng dari Jakarta menggunakan bus umum juga bisa langsung berhenti di terminal ini. Katanya sekarang sudah ada bus yang langsung berhenti di sini dari Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Tapi aku tak dapat info pastinya. Lalu dari sini nanti bisa langsung menggunakan mobil losbak (pick up) menuju basecamp terakhir sebelum pendakian.
Terminal Maja
       Aku pikir perjalanan dari sini akan dilanjutkan dengan losbak. Tapi ternyata tidak. Tepat jam 7.45 perjalanan dilanjutkan kembali menggunakan elf yang sama. Naik ke atas sampai berhenti di rumah Aa Minda, koordinator orang asli sana yang membantu penyediaan mobil losbak. Di rumah Aa ini semua perlengkapan dicek kembali. Beberapa orang teman ada yang mandi, sedangkan aku bongkar ulang carrier, karena kemarin dari rumah asal packing, saking malasnya.
            Dari rumah Aa Minda barulah perjalanan menuju basecamp terakhir Apuy dilajutkan dengan mobil losbak. Jam 10 pagi semua carrier sudah dinaikkan ke atas losbak. 2 orang di depan  menemani bapak sopir dan sisanya duduk di belakang bersama tumpukan tas pendakian.
Trek menuju basecamp sungguh aduhai. Berkelok-kelok, tanjakan, kebun kiri-kanan dan jalanan yang tidak rata. Tak urung teriakan tegang para penumpang mewarnai pendakian losbak. Motor para pendaki yang mengiringi di belakang sesekali juga berhenti tiba-tiba karena kaget jalanan yang rusak. Benar-benar harus ekstra hati-hati kalau memutuskan naik sampai ke basecamp menggunakan sepeda motor. Harus dipastikan terlebih dahulu kondisi motor dan kelihaian pengemudi serta penumpang dan muatannya. Salah-salah bisa fatal akibatnya. Karena jalanan tidak semuanya berparas bagus, tanjakan, tikungan dan tanjakan lagi.
            Sekitar 30 menit losbak berhenti tepat di sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang Di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai”. Ransel diturunkan dan segala administrasi dibereskan sebelum pendakian dimulai. Tak lupa foto tim juga terlebih dahulu.
Cheerrss
       10.45 Bismillah, pendakian benar-benar dimulai dari sini. Setelah briefing tim personal ternyata masih adalagi pengarahan khusus dari tim petugas Ciremai. Kelengkapan grup pendaki ditanyai satu persatu, mulai perlengkapan pribadi sampai kelengkapan kelompok. Bahkan pada saat registrasi juga harus ditulis apa saja yang dibawa ke atas. Karena momen tahun baru, jadi diingatkan untuk tidak membawa hal-hal sepert; no kembang api, petasan, miras dan terlarang lainnya. Termasuk juga pendakian harus menggunakan sepatu gunung sesuai standar. Yang membuat aku juga kaget, anggota tim yang sedang haid pun juga ditanyai. Dan ini adalah hari keempat aku menstruasi. Sempat agak tegang sedikit setelah aku mengakui kalau sedang haid. Karena satu petugas memanggil petugas lainnya. Aku khawatir kalau ada larangan tersendiri atau lebih parahnya dilarang naik. Untunglah mereka hanya menekankan kebersamaan, kelengkapan dan kesiapan fisikku selama pendakian saat haid seperti ini. Aku menjawab mantap, Bismillah
Pendakian dimulai 
    11.30, Alhamdulillah sampailah dengan lancar di POS 1 Arban. 45 menit yang sigap. Trek dari basecamp menuju POS 1 masih tergolong bagus.
     Di POS 1 aku dan teman-teman lumayan lama beristirahat sekitar 20 menit. Karena kegirangan foto-foto keceh, santai rebahan badan dan menyempatkan mengambil  beberapa video.
            11.50 lanjut menuju POS 2. Dari sini jalur sudah mulai menyempit. Tanjakan juga identik dengan akar pepohonan.
            13.20 Alhamdulillah POS 2 Tegal Pasang. 100 menit perjalanan dari POS 1 ditambah beberapa kali istirahat. Sama dengan sebelumnya di sini pun istirahat sekitar 20 menit.
            13.40 lanjut menuju POS 3.
            14.50 POS 3 Tegal Masawa. Di pos ini ada beberapa tenda sudah berdiri. Pun di pos ini tak lama-lama beristirahat karena hari sudah mulai beranjak petang. Dingin pun sudah mulai melanda badan jika berhenti lama-lama. Sekujur badanku sudah basah terutama punggung. Jadi sangat berasa kalau tidak bergerak, dinginnya merasuk ke tulang.
15.04 dilanjutkan menuju POS 4. Trek tanjakan terus tiada ampun terutama didominasi akar pepohonan.
16.10 Alhamdulillah POS 4 Tegal Jamuju. Di sinilah keraguan dimulai. Beberapa anggota sudah terpisah. Ada yang jauh tertinggal di belakang dan ada yang duluan jalan. Aku termasuk kategori yang sampai duluan di POS 4. Rencana awal aku dan teman-teman akan mendirikan tenda di POS 5. Namun, ketika naik tadi dan bertanya kepada para pendaki yang baru saja turun, rata-rata mengatakan kalau POS 5 sudah penuh tenda. Opsi lain POS 5 Bayangan.
Rintik hujan mulai turun pelan-pelan. Kabut juga sama hampir menutupi penglihatan. Beberapa anggota tim masih jauh tertinggal di belakang dan belum menampakkan batang hidungnya. Tak kehabisan akal, ada tulisan yang bertuliskan Camp Ranger di sebuah batang pohon, tenda berwarna orange berdiri di sebelahnya. Aku meminta Lepay untuk bertanya pada Camp Ranger apa masih memungkinkan untuk lanjut ke POS 5 dan mendirikan 6 tenda di sana. Toh, para petugas yang bertugas tersebut memiliki HT untuk berkoordinasi.
Setelah tarik ulur Lepay tak mau bertanya karena malu, akhirnya diputuskan kalau cukup di POS 4 ini saja tenda didirikan. Tak memungkinkan untuk lanjut terus ke POS 5. Setidaknya di POS 4 ada lahan yang masih bisa untuk mendirikan 6 tenda lingkar.
Sepakat, akhirnya 6 tenda berdiri melingkar berdampingan. Tenda tegak, logistik di bongkar dan saatnya memulai masak. Perut baru diisi hanya tadi pagi ketika di Terminal Maja. Tak seorang pun dari kami teringat untuk membungkus nasi buat bekal makan siang di jalan. Tapi untung saja masih ada beberapa cemilan roti pengganjal perut.
Menu makan malam kali ini adalah sop, goreng sosis, bakso, nugget, dan rendang. Kelar makan semua segera merapat ke dalam tenda. Beristirahat karena rencana tepat jam 3 pagi summit menuju Puncak Ciremai.
Selamat malam Alam Ciremai.
POS 4 Berselimut Kabut
Selasa, 01 Januari 2019
            Indah sudah berteriak membangunkan para tetangga di tenda sebelah tepat jam setengah 3 pagi. Dia paling antusias untuk muncak. Aku saja yang sebelum tidur menyetel alarm jam 3 pagi kembali urung menonaktifkannya. Bagaimana bangunnya sajalah entar, pikirku. Yang lain akhirnya juga ikut bangun. Mulai menyalakan kompor, memasak air dan mie rebus untuk penganjal perut pagi hari.
            Tapi ternyata rencana tinggal rencana. Jam 3 berubah menjadi jam 5.15 pagi untuk menuju puncak. Habis menunaikan salat Subuh baru pendakian ke puncak dilanjutkan. Itu pun juga setelah drama Ega tidak mau ikut muncak yang akhirnya dipaksa untuk ikut. Awalnya aku berfikir kalau memang dia tidak mau ikut muncak dan menyatakan diri tidak sanggup ya sudah dibiarkan saja. Toh hari sudah mulai terang dan dia yang paling tahu kondisi fisiknya. Tapi ternyata ada alasan lain kenapa dia harus ikut muncak. Alasan yang akhirnya membuatku geleng kepala tak percaya. Ternyata dia sudah berulah dari awal. Diikuti.            
            06.00 Alhamdulillah POS Bayangan. Untung saja keputusan kemarin untuk ngecamp di POS 4 sudah tepat. Ternyata di POS Banyangan ini juga sudah penuh berdiri tenda-tenda dan juga bentuk area camp-nya berundak-undak jadi tak memungkinkan untuk mendirikan 6 tenda melingkar atau setidaknya tidak berjauhan satu sama lain. Dari POS Bayangan ini tak sampai 5 menit sudah kelihatan POS 5. Sama, di POS 5 Sanghiyang Rangkah juga sudah penuh berdempet-dempet tenda para pendaki berdiri termasuk salah satunya Camp Ranger Volunteer.
            Di sinipun aku dan teman-teman agak lama beristirahat, sembari menunggu anggota tim di belakang yang masih tertinggal. Juga mengabadikan beberapa potret terlebih dahulu sekaligus mengumpulkan kembali stamina untuk lanjut ke puncak. 30 menit berikutnya baru kembali melanjutkan pendakian.
            06.30 Baru kembali melanjutkan pendakian menuju puncak. Dari POS 5 trek sudah di dominasi licin dan gerimis juga sudah mulai turun. Kabut tebal juga menghampiri selama pendakian. Beberapa orang yang baru turun dari puncak mengeluh, kabut tebal dan angin kencang katanya. Tapi entah kenapa aku tetap optimis dan berdoa dalam hati semoga nanti sampai puncak cuaca cerah dan dapat view terbaik dari puncak 3078.
            09.30 Alhamdulillah, meski cukup lama akhirnya Puncak 3078 itu terlihat dan dapat aku gapai juga setelah sebelumnya melewati POS 6 Goa Walet. Perjalanan menuju puncak Ciremai juga pertarungan yang luar biasa menurutku. Trek yang curam, bebatuan, licin, gerimis serta kabut mewarnai sepanjang pendakian. Aku tak berhenti komat-kamit berzikir dalam hati. Jas hujan berwarna merah juga sudah terpasang di badan, antisipasi jaketku ikut kebasahan karena percikan air hujan.
Selain itu ketika naik masih sempat menolong seorang perempuan yang sudah sangat kelelahan. Tangannya gemetaran dan berbalut emergency blanket yang dipasangkan oleh teman-teman lelakinya. Aku dan Halimah membantu sebisa mungkin. Memberikan coklat yang aku punya untuk pengganjal isi perutnya serta memaksa meminum Tolak Angin yang sudah diseduh dengan air panas dari termos merah yang aku bawa. Halimah juga mengoleskan minyak kayu putih ke badannya. Untunglah teman-temannya masih bisa kooperatif membantu. Selanjutnya kami mengarahkan untuk segera dibawa turun karena beberapa langkah di bawah ada camp ranger darurat yang menyalakan api unggun kecil untuk menghangatkan badan. Sayang juga yang aku lihat dari perempuan ini adalah dia memakai celana jeans ketat. Ketika aku tanya apa yang terasa, dia mengatakan sesak. Cckck, itulah gunanya mengetahui pakaian apa yang pas dikenakan ketika hendak mendaki gunung. 
POS 6 Goa Walet
      Alhamdulillah 13 orang teman setimku berhasil semua mencapai puncak tertinggi di Jawa Barat ini setelah melewati berbagai drama dan perjuangan. Alhamdulillah juga, tak lama kemudian kabut berangsur turun dan hilang. View ciamik Ciremai akhirnya terkembang di depan mata. Masya Allah. Tidak ada yang sia-sia sejauh ini. Telat muncak ternyata ini hikmahnya. Kalau tadi summit dini hari bisa jadi zonk.
            11.15 setelah puas mengabadikan berbagai foto saatnya turun kembali. Trek licin selama pendakian tadi sudah mulai mengering. Sebelum kembali ke POS 4 beberapa orang teman berhenti di Goa Walet, mengambil beberapa botol persediaan air.
            14.00 kembali sampai di POS 4. Langung menyalakan kompor masak nasi dan lauk pauk. Menu siang ini ; sarden, omlet, spagety dan nasi putih. Usai makan langsung dilanjut dengan beres-beres dan mulai packing persiapan untuk turun.
            Sembari para lelaki berbenah tenda aku mengobrol dengan seorang Aa di camp ranger yang memperhatikan kami packing dan berberes. Di POS 4 ini tinggal tenda kami yang belum dibongkar dan satu-satunya tim terakhir di POS 4 yang belum turun. Aku iseng bertanya apa gerangan ada kisah atau cerita berbeda di malam tahun baru kali ini.
            “Alhamdulillah aman Mbak. Biasanya ada bagong (babi hutan) kadang suka masuk tenda cari makan. Tapi kali ini gak ada,” jawabnya.
            “Kalau yang “lainnya” A’?” Aku rasa dia mengerti maksud lainnya yang sedang aku tanyakan.
            “Ah itu udah biasa Mbak. Kalau kadang dengar suara orang nangis trus tiba-tiba hilang gitu aja,” dia menjelaskan sambil tertawa kecil. Aku tak mau melanjutkan bertanya lagi. Tadi hanya sekadar pertanyaan iseng saja padanya. Daripada BT menunggui kami yang belum kunjung juga turun sedangkan hari sudah mulai petang.
            17.15 akhirnya langkah kaki turun meninggalkan POS 4 Gunung Ciremai. Kami adalah tim terakhir yang turun sore menjelang senja ini. Dari POS 5 sudah tidak ada lagi pendaki yang turun, begitu laporan ranger yang berada di POS 5. Alhamdulillah, aku pikir semua sudah berjalan dengan lancar. Kami semua bisa mencapai puncak dengan selamat dan sekarang kembali bersiap turun dengan tanpa kurang satu apapun juga. Tapi ternyata, memang tak kurang satu apapun juga malah ada yang “bertambah”.
            Cerita turun dari Ciremai ini mengisahkan sepenggal cerita mistis. Ega, salah seorang teman di tim, kesurupan. Ternyata ulahnya dari kemarin pada saat naik sudah janggal. Berulang kali meminta maaf. Aku pikir itu sudah menjadi kebiasaannya, maklum baru kali ini bertemu dekat dengannya. Tapi ternyata tidak begitu rupanya. Itu pulalah alasan tadi pagi dia dipaksa ikut naik ke puncak. Belum lagi ditambah Indah, yang juga seorang Indigo. Turun malam hari seperti ini dari Ciremai membuatnya harus pintar-pintar menahan diri. Tapi kadang juga, dia tak bisa membendung semua yang dilihatnya. Semua bercampur aduk. Mengingat diriku juga sedang haid, membuatku makin dag-dig-dug tak karuan. Ditambah lagi juga Halimah ternyata ketika salat Magrib di POS 2 pas turun juga melihat sekilas “penampakan” itu. Tepat di sisinya ketika salat. Indah membenarkan hal itu. Memang rupa seperti itu yang dilihat Halimah. Pantesan ketika turun Halimah juga makin kaku dan mempercepat langkah di belakang Eko. Teman-teman yang lain ternyata juga begitu, karena esok hari sampai di Jelambar paginya riuh bercerita pengalaman mistis itu. Mungkin ini juga menjadi alasan ketika naik Ciremai dinasehati oleh petugas jangan turun larut sore, khawatir kemalaman. Kekhawatiran yang mendasar.
            20.30 Alhamdulillah kurang lebih 3 jam 15 menit sampai juga akhirnya di basecamp. Di belakang kami di susul oleh dua orang ranger yang bertugas di POS 4, salah seorangnya yang mengawasi saat kami bongkar tenda tadi. Ternyata kalau bukan sedang high season pendakian, cukup di POS 5 saja ranger bertugas.
            Sampai basecamp makan malam sudah menunggu. Ternyata pada saat registrasi kemarin kami diberi kupon makan yang dapat dipakai nanti ketika sudah turun. Warung makan warga yang berjejer di basecamp menjadi tempat untuk menukarkan kupon makan berdasarkan nomor yang tertera pada kupon. Lumayan, nasi putih, telur dadar, tahu dan tempe goreng menjadi pengganjal perut ketika turun dari Ciremai. Menu standar tapi lumayan mengenyangkan.
Selain itu ternyata di Ciremai inilah satu-satunya gunung yang sejauh ini aku daki mendapat sertifikat. Jadi teringat sertifikat 0KM Sabang yang aku peroleh saat tahun 2015 lalu berkunjung ke Titik 0 KM Sabang, Aceh. Agak puas sih dengan fasilitas Ciremai. Membayar simaksi seharga Rp50.000,- tidak cuma-cuma. Dapat makan ketika turun, tempat mck lumayan bersih serta koordinasi ranger dapat menjangkau dari pos basecamp sampai dengan POS 5 di atas melalui HT.
Ada satu cerita seru lainnya lagi ketika di Puncak Ciremai. Nanang, ketika berhasil menginjakkan kaki di Puncak Ciremai spontan menetaskan air mata, menangis di depan kami semua. Ternyata usut punya usut, tadinya dia sudah hampir menyerah untuk mencapai puncak. Dan ternyata dia juga agak meremehkan Jalur Apuy ketika tahu pendakian Gunung Ciremai via Apuy bukan Linggarjati (tadinya rencana mau naik dari Linggarjati). Ternyata meski dari Apuy perjuangan mencapai puncak Ciremai tak kalah menantangnya. Memang penuh perjuangan dan pertarungan diri. 
Trek yang didominasi batu menuju puncak

    Menjadi gunung tertinggi di provinsi Jawa Barat dengan ketinggian 3078 mdpl tentulah Ciremai banyak dilirik oleh para pendaki dengan target dapat menaklukkannya. Tapi ketahuilah, setinggi apapun gunung, seharusnya bukan niat untuk menaklukkannyalah yang terbesit pada diri. Tapi alangkah baiknya niat yang tertanam adalah untuk berbaur dengannya, belajar dari alam dan mengintropeksi diri selama pendakian.
            Khususnya jalur Apuy yang terkadang mungkin banyak orang agak meremehkan, dianggap paling mudah, dekat dan gampang. Tapi meski demikian tetaplah harus dijaga sikap dan tindakan. Jangan meremehkan, jangan menganggap enteng. Karena sejatinya setiap gunung sudah punya jalannya sendiri-sendiri. Even yang tingginya tidak seberapa kalau niat sudah salah, bisa jadi salah langkah.
            Maka dari itu persiapkan segala sesuatunya semaksimal mungkin. Persiapkan diri agar nantinya tidak merepotkan teman, persiapkan juga batin. Jaga diri, jaga jiwa dan jaga hati. Karena di gunung adalah tempatnya untuk saling menjaga.

            Special thanks to Akasaka atas support-nya untuk Pendakian Gunung Ciremai, 3078 mdpl. Silakan, bagi yang mau melengkapi perlengkapan outdoornya bisa cek langsung di website akasakaoutdoor.co.id
Ciremai
31 Desember 2018 – 01 Januari 2019
[Don't get me wrong] Sandal Akasaka ini aku pake buat ganti di puncak, biar kakinya sedikit lega. Sama dipakai buat  di camp. Trus turun dari POS 4 juga pakai sandal ini. Membantu banget dan tentunya Tangguh Luar Biasa. 
Ciremai’s squad : Khair, Eko, Halimah, Indah, Dadang, Nanang, Lepay, Ega, Deni, Ambon, Jawa, Farhan, dan Wilda Hikmalia. See you on another top geengs

FYI : Yang butuh losbak dari Terminal Maja bisa menghubungi Aa Minda +62 812-2269-0143
More picture about Ciremai on my instagram account @wildahikmalia Highligt IGS Ciremai


59 detik Video by Pak Eko

You Might Also Like

6 Comments

  1. Wow.... Warbiasa buk guru.... Tulisan nya bikin susah move on dari puncak Ceremai...


    Makasi buk wilda.. Semoga jaya dan memperbanyak karya nya... Amiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yrb. Thanks Pak.
      Hayuk, puncak berikutnya ke mana nih :D

      Hapus
  2. Kereeen........ditunggu tulisan selanjutnyaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bu gulu. Siap, tulisan berikutnya di petualangan selanjutnya hehe

      Hapus