Kapan hari aku bertugas untuk memberikan honor seorang narasumber yang sedang mengisi materi pelatihan. Sejak satu jam sebelum kelar, aku sudah standbye. Ketika sesi sudah kelar, aku segera menemui beliau, meminta tanda tangan dan memberikan amplop. Biasa. Gak mungkin ya kan setelah selesai aku langsung berlalu begitu saja? Ngobrol-ngobrol dululah sebentar. Eh, gak tahunya si bapak narasumber tanya, “Ibu anaknya berapa?” aku jawab, “baru satu, pak.” Beliau langsung menyerahkan selembar uang, “ini buat anak ibu.”
Lah aku kaget dong. Di ruangan itu ada 3 orang temanku yang lainnya. Juga sama ditanya anak ada berapa dan memberikan beberapa lembar uang (yang tadi aku amplopin, untuk honor beliau.) Sontak kami pada sungkan. Aku pun beberapa kali menolak dan bilang terima kasih. Aneh aja, dia baru dapat honor sebagai narasumber selama 4 jam. Amplopnya dia buka, lalu isinya dia bagi-bagiin ke orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Agak gak masuk akal di aku. Mana beliau orang Bandung lagi. PP ke sini naik travel. Aku berhitung secara cepat. Dari honor yang aku kasih tadi hampir setengahnya mungkin dikasih ke kami. Bahkan aku yang tadinya dikasih selembar ditambah lagi oleh dia.
Aku segera merapat ke depan bersama yang lain. Masih enggan untuk mengambil pemberiannya. “Gak pa pa, rejeki itu bisa datang dari mana aja,” ucapnya.
Aku masih mengurai yang barusan terjadi di depan mata. Seorang narasumber, jauh-jauh dari Bandung, datang di hari libur (bahkan long weekend), memberikan ilmu selama 4 jam. Pulang-pulang dikasih honor, tapi amplopnya langsung dibuka, isinya dibagi-bagi lagi ke orang-orang yang mungkin dia gak tahu latar belakangnya apa.
Aku coba menerka ongkos travel, taksi dan sisa yang dia bawa pulang untuk keluarganya. Wow. Kok bisa ya ada orang seperti itu? Tapi jujur ketika dia ngasih uangnya ke kami, ringan aja bawaannya. Seolah ya rejeki yang dia terima sudah cukup dan ada rejeki yang lain di sana. Dia memberi tanpa tahu background yang diberi. Jleb!
Sampai rumah, aku langsung bercerita ke suami dengan sangat antusiasnya. Masih belum percaya dengan apa yang barusan terjadi. Kayak dapat pelajaran baru “soal memberi dan rejeki”.
Beberapa hari setelahnya.
Aku secara dadakan main ke rumah teman bersama bocil. Tanpa persiapan. Namanya juga dadakan yakan? Dilalahnya sedang asyik main, anakku pub. Anak-anak temanku sudah tidak ada yang pake pampers. PRT temanku berinisiatif untuk membelikan pampers ke warung. Sayangnya, aku sedang tidak bawa uang cash. Temanku juga sedang tidur siang. Akhirnya PRT temanku menawari, “mau pakai uang saya dulu, bu?” Masyaallah, alhamdulillah tanpa aku minta dia sudah menawarkan terlebih dahulu.
Beranjak pulang, aku akhirnya minta cash ke teman. Sekelabat, langsung teringat ucapan si bapak narasumber yang beberapa hari lalu secara tiba-tiba memberiku rejeki. Rejeki bisa datang dari mana aja. Akhirnya aku pinjam uang cash ke teman dan membayar utang sama PRTnya.
“Teh, makasih ya tadi udah dibantuin beli pampernya. Ini (aku kasih uangnya). Sisanya buat jajan.” Aku berikan sambil tersenyum. Dan tetehnya, agak kaget.
Well, kebaikan yang dilakukan si bapak narasumber membuatku juga melakukan hal yang sama. Nikmat sekali ya rasanya. Ketika satu kebaikan bisa memantik kebaikan yang lain. Uang yang aku terima dari si bapak narasumber pun sudah aku jalankan sesuai amanah. Alhamdulillah, bisa kebeli pampers bocil 2 bal.

