Lampung - Palembang

Juli 29, 2018

St. Tj. Karang Lampung

Jum’at, 22 September 2017
Selepas sholat dzuhur aku kembali mengepak ransel, packing dan bersiap melanjutkan perjalanan. Berat rasanya hati melangkahkan kaki meninggalkan Way Kambas. Pagi, siang, malam di sini sangat banyak cerita dan nuansa yang melekat. Tapi apalah daya langkah kaki harus segera dilanjutkan.
Sekitar jam setengah dua kembali roda dua membelah jalanan kawasan Taman Nasional Way Kambas mengantarkan dua orang pengunjungnya yang berat hati meninggalkannya. Pul bus Damri Tridatu adalah tujuan berikutnya. Menunggu Damri yang akan membawa ke Rajabasa.
Jam 14.40 Damri pun datang. Perjalanan panjang dalam buaian tidur dilanjutkan. Aku tidak berhenti-henti berpesan kepada bapak petugas Damri untuk nanti menurunkan di tempat terdekat menuju stasiun Tanjung Karang. Setiap dia lewat ke belakang menagih ongkos penumpang yang baru naik, selalu aku pesankan, “Jangan lupa ya Pak, dikasih tahu nanti kalo sudah deket stasiun, mau lanjut Palembang sayanya.”
¤¤¤
Tujuan aku berikutnya setelah dari Way Kambas adalah ke Palembang. Menikmati Jembatan Ampera dan Sungai Musinya. Dari Lampung ke Palembang sebenarnya bisa diakses dengan bus antar provinsi, tapi setelah mengetahui ternyata ada Kereta Api yang menghubungkan dua provinsi ini, aku langsung tertarik. Hulala, selama ini seringnya naik KAI lintas Pulau Jawa saja, kali ini tak apalah mencoba kereta api lintas sumatera.
Menjelang jam 6 sore pak Damri sudah memberi kode untuk siap-siap turun.
“Sini pak?” aku menunjuk padanya memperjelas.
“Iya, turun sini aja. Biar deket lagi ke stasiunnya.”
“Kalo sy pesen Gojek, bilang titiknya di mana?
“Bilang di pertamina sebelum terminal.”
“Okay, baiklah. Terima kasih Pak. Sampai ketemu lagi.”

         Turun dari Damri aku segera merapat ke pinggir, mencari titik-titik yang aman untuk memesan ojek online. Melihat situasi apakah ada pangkalan ojek atau tidak, aman atau tidaknya. Duduk sejenak dan bersiap pesen ojek online. Yuhuu,ternyata tak perlu menunggu lama babang gojekpun dapat. Cuus, meluncur stasiun Tanjung Karang.
Kereta Sriwijaya adalah kereta lintas sumatera yang nantinya akan aku naiki menuju ibukota Sumatera Selatan, Palembang. Naik dari Tanjung Karang menuju Kertapati, Sriwijaya menempuh perjalanan sekitar 9 jam. Berangkat dari Tj. Karang jam 21.00 dan sampai Kertapati 06.15 pagi. Alhasil malam harinya akan tidur di kereta.
Naasnya sore itu aku datang terlalu awal di stasiun. Aktifitas belum dibuka. Mau cari makan tapi rasanya pundak begitu berat membawa ransel. Untunglah bapak petugas stasiun yang aku tanyai berbaik hati untuk dititipkan ransel terlebih dahulu. Sementara mencari makan malam, ransel dititipi di stasiun.
Lampung sore itu
21.00 Sriwijaya siap membelah jalanan Lampung – Palembang. Alhamdulillah pertama kalinya naik kereta sumatera dan ontime. Sriwijaya  memiliki 2 kelas, bisnis dan eksekutif. Karena perjalanan panjang dan tidur di kereta aku memilih kelas eksekutif biar nyaman untuk merebahkan badan. So far so good perjalanan dengan kereta ini. Hanya saja harus rela merasakan kereta berhenti terlalu sering dikarenakan harus mengalah dengan kereta batubara. Kalau di Jawa naik kereta ekonomi, harus mengalah ketika eksekutif lewat. Sedangkan kalau di Sumatera even naik yang eksekutif tapi harus rela mengalah ketika kereta batubara lewat.

Meleset hampir 1 jam dari jadwal Alhamdulillah Sriwijaya merapat dengan selamat di Stasiun Kertapati, sabtu, 22 September 2017 (sesuai dengan itinerary yang sudah aku rencanakan). Next, saatnya melanjutkan perjalanan menuju hotel. Keuntungan di kota besar seperti Palembang, sudah ada transportasi ojek/taxi online. So, setelah merapat tinggal booking transportasi online and let’s continue the journey.
Penampakan Sriwijaya
"Bagian dari 5 hari perjalanan Lampung - Palembang"
Baca juga :
Cara Menuju Way Kambas
Penginapan di Way kambas
10 Alasan Harus ke Way Kambas
Jelajah Palembang


You Might Also Like

0 Comments