Pertama kali menginjakkan
kaki di gugusan pulau yang masuk jajaran Kepulauan Seribu ini, ada nuansa
tersendiri yang sangat berbeda dari kebanyakan pulau lainnya yang sudah pernah
saya kunjungi. Aroma turisme ataupun wisatawan tidak tercium sedikitpun ketika
kapal sudah merapat di Dermaga Barat Pulau Lancang. Desakan penumpang pun tidak
sembrawut seperti biasanya, hanya ada beberapa orang penduduk lokal saja yang
menurunkan barang-barang bawaaan mereka dari tanah seberang.
Nama Pulau Lancang memang sangat asing
bagi saya, bahkan ketika saya berujar pada salah seorang teman ingin berkunjung
ke pulau ini, dia malah balik tanya, “Di mana itu? Mau donk di ajak.” Pun
ketika bertanya kepada mbah google, apa sih istimewanya dari pulau yang satu
ini? Lalu apa sih ikonnya yang menarik seperti kebanyakan pulau lainnya di
jajaran Seribu? Apa dia memiliki Jembatan Cinta seperti Tidung? Atau memiliki
pasir pantai seperti Perawan di Pari? Dan yang tidak kalah pentingnya,
bagaimana dengan ekosistem underwaternya? Menarikkah? Masih terjagakah? Begitu
banyak pertanyaan bercabang diotak ketika ajakan ke pulau ini datang.
Namun, mbah google sekalipun tidak
berhasil membuat pertanyaan saya terjawab. Hanya satu klu yang saya dapat,
Jembatan Pelangi. Just it. Setelah
pikir panjang dan makan rayuan para teman dan dengan berat langkah meninggalkan
bangku kuliah, akhirnya saya memutuskan untuk ikut bertandang ke pulau yang
masuk kelurahan Pulau Pari ini bersama dua orang guru Biologi dari sekolah dan
tiga orang teman lainnya. Tujuan utama tentunya lebih menelisik jauh tentang
pulau ini dan menyapa ekosistem bawah lautnya serta melengkapi informasi yang
belum memuaskan saya.
| Jalanan Dermaga Barat Lancang Besar |
Ada satu hal lagi yang
menjadi tanda tanya besar bagi saya pribadi, yaitu keberangkatan dari dermaga
yang baru pertama kali saya dengar, Dermaga Rawa Saban. Dermaga Muara Angke,
Muara Kamal adalah dua dermaga yang terbilang sudah sering hilir mudik saya
datangi. Menuju Pulau Pari, Pulau Tidung, Pramuka, Harapan, Panggang bergerak
kapal dari sini sedangkan Pulau Onrust, Kelor dan Cipir bertolak kapal dari
Muara Kamal dan tidak ketinggalan Karangantu menjadi tempat merapatnya kapal ke
Pulau Tunda yang terakhir saya kunjungi. Namun, Rawa Saban adalah kali pertama
bagi saya dan langsung memberikan citra yang jauh berbeda dari dermaga lainnya.
Terletak di Cituis Tangerang tentulah menjadi akses terdekat dari keberangkatan
saya dan tim yang berdomisili di BSD-Tangerang Selatan. Dermaga yang satu ini tergolong
cukup rapi dan bersih meski tidak terlepas dari bau amis berbagai macam ikan
yang tergeletak di sebelah kiri dermaga.
| Suasana pagi hari Dermaga Rawa Saban |
Jam 10 pagi ini juga menjadi rutinitas rutin yang dilakoni oleh nelayan dan warga sekitar, transaksi jual-beli hasil laut. Ada satu hal yang sangat menarik dan menyita perhatian saya ketika sampai ke Tempat Pelelangan Ikan Cituis Kp. Cituis Desa Suryabahari Kec. Pakuhaji Kab. Tangerang ini, yaitu pelelangan ikan dengan teknik sorak suara dengan microfon khusus menggunakan dendangan khas si tukang lelang. “Lima belas rebu, tujuh belas rebu, dua puluh satu rebu, dua puluh lima rebuuuuuuu…” begitu seterusnya dendangan si tukang lelang dengan cekatan memperhatikan gerak jari tangan para si pembeli. Unik memang, sistem jual beli yang dilakoni di sini. Namun, sedikit sesal yang saya rasa ketika salah seorang guru di hari kepulangan ingin ikut berpartisipasi, ditolak mentah-mentah pun ketika deal dengan nelayan sudah di depan mata, para pelaku tertentu lelangan ini tidak membiarkan ‘orang luar’ ikut andil sekali pun bertransaksi secara langsung dengan nelayan yang baru akan menyenderkan hasil tangkapan mereka di tempat ini. Semua punya metode, semua punya aturan tersendiri, meski terkadang menyesakkan mereka kalangan bawah yang berusaha beradu nyawa di lautan lepas demi menutupi kebutuhan keluarga.
| Hasil laut yang siap untuk dilelang |
Keberangkatan kapal ke Pulau Lancang baru akan berlayar di jam 12 siang nanti. Sembari waktu yang ada selain dapat menyaksikan kesibukan datar di area dermaga, saya dan teman-teman mengisi perut terlebih dahulu di sebuah warteg dekat kapal bersandar. Kapal terakhir dari Pulau Lancang adalah jam 10 pagi dan kapal ini akan kembali lagi jam 12 siang ke Pulau Lancang. Menyebrang dari Rawa Saban ke Pulau Lancang hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit saja. Diwaktu jeda yang sedikit itulah dimanfaatkan oleh warga pulau untuk berbelanja terutama yang ikut penyebrangan di pagi hari. Mereka melengkapi kebutuhan sehari-hari di pasar Kp. Melayu, Pakuhaji, Mauk bahkan Cengkareng untuk berbelanja bahan pokok maupun sandang seperti pakaian.
Di bawah terik jam 12 siang kami sudah berada di dalam kapal kecil yang penuh oleh dus-dus belanjaan warga, berbagai macam sayuran, sepeda motor di depan kemudi dan hanya hitungan jari penumpang. Lagi-lagi ini sangat membedakaan dari penyebrangan saya yang biasanya (padat penumpang) terutama wisatawan. Ini pun hari sabtu, weekend, tapi tampaknya hanya kami si pendatang berlogo–wisatawan, dua orang koko koko cina dengan pancingannya dan selebihnya adalah warga setempat. Tepat jam 12.15 kapal segera bergeser menuju lautan dan jam 12.30 siap mengantar ke Pulau Lancang.
| Sebagian besar muatan kapal diisi barang belanjaan warga |
| 13.00 selamat siang Pulau Lancang |
Apa saja yang membuat hati
saya terpikat dengan pulau ini?
Tatanan pulaunya yang begitu rapi dan apik
dipandang mata membuat saya langsung jatuh cinta akan keindahannya. Pulau yang
terpecah menjadi dua ; Pulau Lancang Besar dan Pulau Lancang Kecil memberikan dua perbedaan yang
tampak jelas. Pulau Lancang Besar yang menjadi pusat pemukiman warga sudah hampir
memiliki semua fasilitas yang memadai, seperti gedung pendidikan dari tingkat
TK sampai dengan SMP, tidak ketinggalan juga fasilitas puskesmas dua lantai pun
dengan gagah menyambut disepanjang perjalanan menuju homestay. Semua
infrasturktur ini tentunya juga didukung oleh tatanan jalan sepanjang pulau yang
tertata, conblock rapi di sepanjang jalan utama dan jejeran tong sampah yang
berdiri menunggu muatannya. Semua tampak apik di mata saya.
Berbanding terbalik dari
pulau sebelahnya, Pulau Lancang Kecil sudah menjadi bagian yang lain. Pulau
yang tak berpenduduk ini sudah menjadi milik pribadi yang katanya sedang dalam
proses akan dibangun villa atau semacam resort nantinya.
| Conblock rapi di sepanjang jalan utama |
Setelah merapat di
homestay, sholat dzuhur, santap siang ikan asin, kepiting, sop dan sambal
saatnya atraksi bawah laut dilaksanakan. Makan siang sempat menjadi kendala
perut begah pada kami. Biota laut ini menjadi menu lamak siang yang membuat
gerak lambat menuju dermaga. Jam 2.30 baru saatnya bersiap untuk menuju Pulau
Lancang Kecil, menyapa keelokan alam bawah laut Pulau Lancang.
| Fasilitas kesehatan yang dilengkapi pendingin ruangan |
Sebenarnya perjalanan ke Pulau Lancang ini
adalah sebuah misi dari jajaran guru Biologi di sekolah untuk melengkapi
pembelajaran mereka di bangku pendidikan. Sedangkan saya hanya pelengkap dalam
perjalanan ini tapi tentunya keingintahuan yang kuat akan keindahan bawah laut
Pulau Lancang.
Kapal merapat di spot terdekat dari Pulau
Lancang Kecil, di kedangkalan setinggi dada orang dewasa. “Di sini bagus
terumbu karang dan biodata lautnya,” ujar Pak Marzuki selaku guide kali ini.
Saya tidak sabar segera berkecimpung di dalam laut.
| Santap siang yang menggugah selera |
| Menikmati ketenangan sembari snorkling |
Tidak sedikitpun menyia-nyiakan kesempatan, Pulau Lancang Kecil pun saya
susuri sore itu. Meski disepanjang pantainya dipasang jaring untuk menghalangi berlabuhnya
kapal-kapal, kami bisa menyelusup dari pinggir-pinggir pembatas. Saya ingin sedikit
mengenalnya lebih dekat. Benar saja pulau ini dilirik, sepanjang garis
pantainya menyuguhkan keindahan yang luar biasa, pasir putih dengan alunan
ombak kecil dan sepoian angin melambai membuat jiwa terbuai. “Itu petugas yang
jaga, banyak yang masih perlu dibenahi,” terang Pak Marzuki setelah saya
menanyakan sebuah bangunan putih menyelinap dibalik pepohonan. Lagi-lagi pulau
ini berhasil menarik hati saya. Beberapa spot snorkeling kami telusuri sampai
jarum jam menunjukkan pukul enam sore. Petang menyambut, malam menyilakan.
Aktivitas di malam hari sama
dengan kebanyakan kunjungan ke pulau-pulau lainnya. Bergelut lidah dengan Ikan
bakar di pinggir pantai. Saya tidak melihat aktivitas yang sama di sekitar pun
ketika snorkeling. Hanya kapal kami yang berlabuh untuk menikmati bawah laut
dan malam ini hanya kipasan ikan bakar rombongan kami berenam yang mendayu-dayu
di pinggir pantai. Benar firasat, pulau ini belum terlalu terekspos. Hanya baru
banyak dikenal oleh kalangan pemancing saja.
| Dermaga keberangkatan kapal menuju spot snorkling |
Keesokan hari, jam 10 pagi
kapal sudah harus meninggalkan dermaga. Diwaktu yang tersisa, setelah sholat
subuh kami berburu oleh-oleh kepulangan. Berburu berbagai macam ikan di Dermaga
Timur Pulau Lancang Besar. Untuk menyusuri pulau ini, satu-satunya hanya dengan
moda transportasi jalan kaki, karena belum adanya penyewaan sepeda (seperti
pulau-pulau lainnya).
Dermaga Timur tampak sesak dengan
hiruk-pikuk hitugan timbangan ikan, udang, cumi, yang baru diturunkan nelayan dari kapal.
Berbagai jenis ikan segar akan menyapa selamat pagi pada setiap mata yang
menjumpainya. Aku hanya mengabadikan beberapa jepretan, selanjutnya mengikuti
arus dua orang guru yang berjibaku memburu cumi segar yang baru turun dari
timbangan. Aku tidak ingin terlibat dalam tawar-menawar itu cukup menjadi
penonton setia yang sesekali digoda juragan-juragan ikan untuk dimintai diambil
potonya.
| Rutinitas pagi di Dermaga Pulau Lancang Timur |
Masih ada satu hal lagi yang masih membuat
saya penasaran, di mana Jembatan Pelanginya? Di menit-menit terakhir yang
tersisa setelah sarapan nasi uduk mengenyangkan perut, kami menyempatkan
menyambangi spot terakhir, Mangrove. Jembatan Pelangi yang tersebut di dunia
maya itu masih seperti itu, masih belom kokoh, masih belum melengkapi namanya
yang terletak di sebelah kiri Dermaga Timur. Beranjak dari lokasi ini Pak Mar membawa
kami ke kumpulan deretan Hutan Bakau lebih ke timur, melewati tower tinggi dan
lapangan sepak bola menghijau dikelilingi pepohonan. Ini adalah tempat
persinggahan terakhir di Pulau Lancang.
| Kawasan
Hutan Bakau Lancang |
Namanya memang tidak seperti pesona yang
ditawarkannya. Keunggulannya sangat tampak pada pertemuan pertama. Penyebrangan
yang tidak sampai hitungan satu jam, tatanan pulau yang apik, rapi dan bersih,
suasana yang nyaman dan tidak se crowded
pulau-pulau lain. Sangat cocok mencari ketenangan di sini. Penduduk lokal yang
ramah, ekosistem underwater yang tidak kalah menggoda dan tentunya menu khas
olahan laut yang menggoyang lidah. Tentunya keunggulan-keunggulan itu patut
diperkenalkan lebih dekat lagi kepada para pecinta keindahan, ketenangan dan
masyarakat luas. Potensi wisata Pulau Lancang yang perlu digebrak agar lancang
memikat setiap mata untuk dikenalkan lebih luas lagi.
Pulau Lancang, 13-14
Februari 2016
| Pagi hari di Dermaga Timur Pulau Lancang Besar – Terima kasih Tuhan |
Rintik hujan menemaniku dalam tangis yang tiada henti dalam lubuk hati di stasiun ini. Pekikku membuncah mengingat dirimu yang kini hanya tinggal nama. Semakin menjadi, seolah hujan makin garang menutupi tangis ini. Sesak rasanya kawan harus menerima semua ini. Serasa langkah tergopoh-tergopoh karena harus menghadapi hari-hari ke depan tanpa semangat dari dirimu lagi.
Hari ini, dua sholat aku lewati. Sholat Gerhana Matahari dan Sholat Jenazah untukmu kawan. Tenang di sana ya, ku iringi do'a nantinya dalam Sholat Gaib dan alunan Yasin setelah suci nanti.
Aku masih berusaha kawan, menguatkan diri, menahan air mata hingga ulu hati tak kala aku bersanding dengan Ibu mu disamping tempat tidur putih itu. Aku malu untuk bahkan setetespun mengeluarkan air mata. Dokter berkata masih ada harapan, Ibu mu masih berusaha setegar jiwa menyebut Asma-Nya di telingamu berulang-ulang, lagi... lagi... dan lagi. Aku pun tak mau kalah, aku bisikkan kedatanganku padamu, "Mb Dee, ada aku loh di sini. Ada Nisa, ada Egha. Ayoo Bangun. Ayoo Semangat lagi." Aku berbisik padamu dalam senyum menahan air mata dipelupuk mata. Aku sesak mb ketika persis disebelah wajahmu yang lugu itu. Aku tahu Kau masih di sini. Aku tahu Kau masih berusaha. Dokter pun berkali aku pastikan, "masih kan Dok?"
"Masih. Bantu terus meski ktitis dan sudah kecil kemungkinan. "
Dan Kau tahu mb?
Tepat jam 13.44 Dokter mengganguk pelan dibalik kacamatanya itu. Beranjak ke pembaringanmu... Dan.... Menyatakan akhir segalanya.
Dan... tangis hatiku makin buncah.
"Ga pa pa Opi. Kalo mau jalan, mama, bapak, keluarga sudah ikhlas semua. Opi ga pa pa kalo mau pergi. Mama sudah ikhlas Nak. Ikhlas sayang. Pergilah dengan tenang. "
Ya Allah.. sungguh kalimat tegar yang aku dengar di detik-detik sebelum malaikat itu benar-benar meregang nyawamu. Mamamu sekuat dirimu mb. Tidak heran aku mengenal perawakanmu yang kokoh, ternyata itu Kau warisi langsung dari ibumu. Ibu terhebat yang pernah kukenal meski sesaat. Aku merangkul tubuh mungil Ibu yang telah memberikan aku seorang teman luar biasa sepertimu. "Saya bangga dan salut, Mama begitu tegar."
"Semua karena Allah Nak, mama ga butuh air mata, tapi do'a dari kalian semua, " ucapnya bersimpuh di lantai tepat di depan ruangan terakhir mu di rumah sakit ini. Aku memeluknya makin erat, berharap ketegaran dan keikhlasan itu menular padaku yang rentan ini.
Selamat jalan mb Dee..
Selamat jalan...
Selamat jalan...
Perjuangan mu sudah berakhir, tiada lagi masalah, tiada lagi air mata dan tiada lagi beban yang Kau pikul.
Terimalah usap keningmu yang terakhir dariku. Terimalah tatapan terakhir dariku untuk mu. Sebelum semua selang-selang itu dicabut dari tubuhmu. Terimalah ucapan terima kasihku yang terkahir kalinya untukmu.
Terima kasih mb, Kau pernah menjadi warna dalam hidupku.
Terima kasih mb, Kau selalu berikan aku solusi terbaik dalam setiap curhatanku.
Terima kasih mb, Kau berikan aku pelajaran berharga dalam setiap nafasmu.
Terima kasih atas semua. Terima kasih. Terima kasih sangat.
Ku do'akan kepergianmu. Ku do'akan ketenanganmu di sana. Semoga Allah SWT menempatkan mu disisi-Nya yang paling mulia, mengampuni semua khilafmu dan Husnul Khatimah hendaknya akhir dalam perjalananmu.
Selamat jalan mb Dee. Wanita super, hebat, tangguh dan luar biasa yang pernah ku kenal.
Gerimis, berbaur dalam do'a panjangku untukmu yang tiada henti.
R.Buntu 9-3-16 8.07 pm
| Akasaka di lautan Bromo |
Salah satu faktor penting
dalam dunia adventure adalah alas kaki yang pas, nyaman dan setia dalam suka
maupun duka. Sepatu atau pun sandal yang siap menemani setiap aksi petualangan,
baik alam, gunung bahkan lautan. Bagi pecinta petualangan ekstrem, menemukan
alas kaki yang cocok tentunya tidak asal sembarangan saja. Tidak terpatok pada
merk terkenal, model yang kece atau harga selangit. Lebih dari itu
ketangguhannyalah yang lebih diutamakan.
Kali ini saya ingin banyak berbagi tentang
keperkasaan alas kaki super duper yang telah harau melintang menemani
petualangan saya dalam tiga tahun terakhir. Sandal gunung produk lokal yang
membanggakan, melebihi ekspektasi dari merk lain sekalibernya. Mengedepankan
slogan “Cintai Produk Dalam Negeri” akhirnya saya jatuh hati dengan sebuah
produk sandal gunung bernama “AKASAKA”.
| Pertama kali di ajak long trip ke Lombok (Spot : Gili Sudak) |
Dipenghujung tahun 2012,
niat long trip dua pulau menawan di Timur Indonesia segera ingin
direalisasikan. Bali - Lombok dengan gaya backpacker. Permulaan itulah aku
memutuskan mencari satu sandal petualangan yang sesuai di hati dengan
ketangguhan luar biasa untuk menemani perjalanan panjang. Setelah browsing
sana-sini, baca puluhan bahkan ratusan review dari Akasaka Lovers, akhirnya
saya langsung menambatkan pilihan padanya dan memutuskan membeli via online
dikarenakan Akasaka belum terlalu ramai nangkring di toko-toko outdoor se
Jabodetabek khususnya. Sempat tukar ukuran dikala itu, namun pelayanan tetap
top markotop dengan dedikasi yang tinggi oleh adminnya.
![]() |
|
Tektonik 109.000 dan
Garansi satu tahun
|
Lalu apa sih keutamaan Akasaka di mata saya?
BANYAK !!!
- Sandal ini sangat cocok bagi kaki-kaki petualang ekstremMisalnya saja jika kurang nyaman snorkeling pakai fin/kaki katak, bisa diganti dengan sandal Akasaka. Dan Akasaka sudah menemani saya bersnorkling ria ke berbagai ranah nusantara diantaranya ; Snorkling di Gili Sudak – Lombok, Krakatau, Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Belitung, Pulau Tunda dan banyak lainnya spot-spot underwater bawah laut yang sudah menjadi saksi kebersamaan Akasaka dengan saya.
- Tidak hanya laut, Gunung pun sudah menjadi keakraban bagi saya ditemani Akasaka menuju puncaknya. Papandayan , Ranu Kumbolo, Sikunir, Marapi, Salak, Merbabu adalah beberapa puncak yang berhasil saya pijak setelah melalui berbagai macam trek bersama Akasaka. Menelusuri arus sungai, lumpur, trek tanah licin, bebatuan dan trek menantang lainnya namun hanya hitungan jari saja saya pernah tergelincir memakai Akasaka. Nihil sekali kefatalan yang disebabkan. Ketangguhannya luar biasa, tidak diragukan lagi.
- Olahraga air lainnya seperti Rafting pun pernah saya ajak. Lagi-lagi Akasaka membuktikan kehebatannya dalam berbagai hal pelengkap kegiatan outdoor.
|
Trek licin menuju Green Bay, tapi kaki tetap kinclong
dari beceknya jalan
|
- Sandal adventure dengan tali yang kokoh
- Tapak yang kuat dalam medan licin sekali pun
- Lem yang sedikitpun tidak berpengaruh meski sering diajak berendam di laut
- Model dan design yang pas, nyaman, apik dan mantap
- Harga yang bersahabat
- Garansi 1 tahunItulah enam keutamaan istimewa yang saya temui pada Akasaka.“Akasaka itu kuat,” ucap seorang teman. “Sangat kuat. Banget malah,” begitulah saya menambahkan.
|
Dibawa
trekking ke Baduy dalam pun juga sudah
|
Sampai tulisan ini dibuat
Akasaka masih bertengger indah di rak sepatu saya setelah dimandikan pasca
turun dari Merbabu. Namun itu menjadi akhir pertemanan saya dengannya. Semua
masih mulus tapi tapaknya sudah menipis sehingga resiko dibawa naik gunung.
Paling nantinya akan sering dipakai untuk perbolangan daratan saja, untuk
gunung dia sudah gantung tali.
Meski masih banyak di luar
sana orang yang selalu bangga memakai produk luar dengan label kenamaan, tapi
sudah saatnya untuk segera beralih ke produk anak negeri. Dengan kualitas yang
sama bahkan melebihi, sudah saatnya produk olahan Bekasi ini menempati urutan
pertama di hati. Layak pakai dan beli bagi pecinta adventure di seantaro
negeri. Akasaka, tangguh dan luar biasa.
Official website : http://akasakaoutdoor.co.id/
|
Habis
berendam di Pulau Harapan
|
Semua hanya
tentang sebuah perjalanan. Berawal dan berakhir. Pertemuan-perpisahan.
Kebahagiaan dan duka yang ditinggalkan. Keputusan harus diambil karena di sanalah
babak baru itu akan dimulai.
---
Juli 2009
Alunan Hijau Daun dalam Sampai Kau Bicara berdendang mengantarkan
langkah kaki sepotong harapan jiwa muda yang merindu kehidupan lebih baik di
luar sana. Melodi mengaung bersama air mata yang terselip di kedua pelupuk
mata. Tertahan oleh kerasnya kemauan. 18 tahun bukanlah menjadi penghalang
tekad, niat dan usaha keras yang sudah
dihunuskan. 1.1jt pun dengan mantap menjadi modal dalam perniagaan hidup.
Keyakinan dan entah apa yang merasuki sehingga itu sudah menjadi harga mati
yang harus diambil.
Itu hanya sebuah perjalanan.
Pertemuan dan perpisahan.
Permulaan, proses dan akhir.
Keberanian, menjalani, kalah dan
mengulangi.
Keyakinan, tekad, usaha, do’a dan kerja keras.
Langkah kaki, berjalan, bergerak,
termotifasi, perubahan dan keputusan.
Sekali lagi … ini hanya hidup … bukan
keabadian, kekekalan dan selamanya. Semua punya alur cerita masing-masing.
---
Hampir satu hari melewati babak baru. Meninggalkan kisah manis di sana
dan mencoba “mengekang” diri dalam ketakutan yang dirasakan selama ini. Pilihan
sudah diambil. Keputusan sudah dilaksanakan. Sekarang tinggal menjalani yang di
depan mata dan kembali mencoba membangun zona aman sampai batas waktu yang
ditentukan.
Piatu … bukan selamanya berarti tidak beribu atau kekurangan belas kasih
jalan menuju surga itu. Hanya berdasarkan niat dan cara yang elegan untuk
menjalani atau menutupinya. Dua tahun
lebih bersama bisa membangun karakter seorang Ibu yang didamba. Ibu kosan yang
kebanyakan dipanggil orang dengan sebutan Mpok Ntas. 10 januari 2016 adalah
sesi terakhir aku mendengar bunyi ulekan pagi buta di warung sebelah. Aku
menarik nafas panjang berbicara padanya ketika hendak pamit seminggu lagi. Dia
melebihi Ibu Kosan dari kebanyakannya. Urung niat sering aku coba redam, tapi
apalah daya semua harus diungkap.
Terima kasih Mpok, sudah menjadi
bahagian terindah dalam perjalananku. Terima kasih belai kasih dan perhatianmu
padaku. Meski tidak kan pernah ku dengar lagi teriakanmu di pagi hari, tapi
ketahuilah kelak aku akan sangat merindu itu. Kau gedor pintu dan jendela
kamarku, “Wilda…Wilda…Bangun !!!” Kau ulangi lagi sampai suara parauku menyahut
dari dalam. Meski akhirnya kadang kau lelah juga dalam usaha.
Terima kasih Mpok, aku pasti akan merindu
teriakanmu di kala waktu sahur, rindu ayam goreng yang kau bagi ke kamarku,
rindu resol, bakwan, tempe goreng dengan kuah kacang itu di waktu buka dan
rindu perjalanan bersamamu melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat tarawih.
Walau pada akhirnya semangatmu hanya di beberapa awal bulan puasa saja, tapi tak
pernah lupa kau bertanya dan menyuruhku ke masjid Muhajirin di ujung jalan
sana.
Terima kasih Mpok, aku pasti akan
sangat merindukan nasi uduk dan gado-gado khas andalan ulekan tanganmu. Di mana lagi coba aku akan bisa membayar nasi
uduk 2 rebu komplit nasi, mie, gorengan dan semur tahu? Di mana lagi coba aku
akan makan gado-gado super enak dan mak nyus seharga 5 rebu? Di mana lagi coba
aku akan makan gratis di akhir-akhir tanggal tua selain ditempatmu? Ah, jika
merindu izinkan aku selalu ya mengetuk pintu rumahmu.
Terima kasih Mpok, aku pasti akan
selalu merindukanmu di saat hujan turun. Betapa tidak, jemuran terbentang
banyak di depan kosan, kau lah yang selalu mengangkat dan menyelamatkannya dari
guyuran air langit itu. Kau jugalah yang selalu merapikannya saat aku pulang
malam. Kau jugalah yang keesokan paginya berteriak logat betawimu, “ Wilda
jemuran lu tuh!”, di mana aku malah balik bertanya, “Eh, emang kemaren nyuci
ya?” Ah dasar, maklumlah bu, Aku ini anak muda penuh cinta yang tak luput dari
dosa.
Terima kasih Mpok, aku pasti akan
merindukanmu dikala aku terbaring sakit. Kau kewalahan jam 4 pagi itu
mencarikan tukang urut setelah aku tidak berhenti merintih dan menekan perut
yang kesakitan dari semalam. Kau juga pontang-ponting berlarian ke jalanan memanggilkan
ojek menyuruh antarkan aku ke rumah sakit. Kau isikan botol itu air hangat dan
kau kerok punggungku kala aku mulai mengeluh sakit lagi dan lagi.
Terima kasih Mpok, aku pasti akan
merindukanmu kala traveling sudah harus dijalani. Kau tolong jaga kamar dan
semua barang-barangku selama perjalanan panjang itu ku lakukan tanpa batas. Kau
hanya bertanya ke mana aku akan melangkah. Kau berkata, “Selagi muda pergilah
kau ke manapun kau suka!”
Terima kasih Mpok, atas semua yang
pernah kita lalui bersama. Curhatanku-nasehatmu, mauku-berimu, inginku-lapang
dadamu.
Tenang Mpok,
Kau tidak akan mendengar lagi
dentuman speaker keras dari kamar sebelah.
Kau tidak akan mendengar lagi
ocehanku yang panjang dengan nada keras ketika telpon dari seberang sedang
kuterima.
Kau tidak perlu lagi minta maaf di
pagi hari jika malam kau bersilat lidah dengan si babe.
Kau tidak akan lagi cemas menungguku
yang tidak pulang-pulang sampai keesokan paginya. Bagaimana aku bisa
mengabarimu kalau aku menginap di tempat teman, bertukar nomor telpon pun kita
tidak pernah.
Kau tidak akan naik darah lagi karena
ku isengi di saat humorisku kambuh mencuat.
Satu yang pasti Mpok, kau tidak akan
pernah menemukan lagi mantan penghuni kosan sepertiku, yang terang-terangan memelas belas kasihmu agar
harga kosan tidak naik seperti maumu. Semua mesti mauku dan kau berlalu, “Ah,
terserah lu aja deh.”
Sekali lagi, Terima kasih ocehan,
semangat, nasehat dan do’a yang selalu kau iringi untukku.
Terima kasih Amak di perantauan.
BSD 10-01-16
![]() |
| Ibu Kosan beserta cucu-cucunya |
![]() |
| Lapeeeerrr Maaaak |











